Ikhtiar untuk Menjadi Matahari

Wednesday, March 25, 2009

Oggix Kenapa Ya?

Aduh itu shoutbox kagak bisa diapa-apain.
Masa login ke Oggix udah masuk disuruh login lagi? Trus login lagi, masuk, eh disuruh login lagi? Ini lagi error ato emang punya saya aja yang error yah?

Yang laen pernah kayak begini gak ya? Udah spamnya segunung lagi. Ahhhh!!!!

*postingan terpendek dan terparah*
*biarin ah*
*beginilah kalo maksa apdet blog*

Wednesday, January 14, 2009

Kasih Jalan Dong!!

Hari ini setengah ngebut (tumben-tembenan, selama hamil, biasanya saya nyetir pelan-pelan) saya memacu kendaraan menuju kantor pajak. Bayangkan, kemarin, setelah ngantri berjam-jam di kantor pajak Malang Utara, ternyata dengan sukses saya KELIRU sodara-sodara! Harusnya saya ngurus NPWP di kantor pajak Malang Selatan karena kecamatan sesuai KTP saya memang diurus kantor pajak wilayah itu. Jadilah hari ini -membayangkan antrian panjang seperti kemarin- saya ngebut menuju kantor pajak Malang Utara, mengambil berkas -dengan bonus tampang sangar satpam karena dia harus bolak-balik ke kantor bagian dalam buat nyari seorang petugas berkacamata yang saya lupa enggak nanya namanya- lalu ngebut lagi ke kantor pajak Malang Selatan dan mengambil nomor antrian.

Diantara kebut-kebutan itu, ada kejadian yang bikin saya dongkol setengah mati. Di tengah jalan, dari jauh -di depan saya beberapa puluh meter- terlihat sebuah mobil Ambulan dengan lampu sirine menyala -enggak meraung-raung sih >> kesian amat itu sirine- tapi berjalan merayap diantara lalu lintas yang lumayan padat. Karena ngebut, akhirnya saya berada cukup dekat di belakang Ambulan itu. Ketika sampai di sebuah pertigaan, dengan santainya kendaraan-kendaraan dari arah kiri melaju memotong jalan Ambulan tersebut, memaksa Ambulan itu untuk berhenti. Melihat itu saya dongkol setengah mati, pengen banget teriak, "Hooiii, kasih jalan dooonggg!!!" Bener-bener dah itu orang-orang, kagak ngarti apa kalo mungkin ada orang sekarat di dalam Ambulan itu. Mereka -para pengendara itu- mungkin tergesa-gesa ato apalah, tapi sepenting apapun urusan mereka, tak ada yang lebih penting dari menyelamatkan nyawa manusia kan? For God's sake! Pada kemana sih hati nurani mereka? Kenapa cuma mikir diri sendiri? Untunglah setelah itu Ambulan itu dapat jalan yang lumayan lancar dan meluncurlah ia dengan mulus. Siapapun yang ada di dalamnya, semoga masih tertolong....
Tinggallah saya dibelakang, menyetir dengan benak penuh pikiran, "Inikah orang-orang Indonesia?"

Monday, August 25, 2008

Mencium Bau Surga

Seorang Dokter bercerita kepadaku, “Pihak Rumah Sakit menghubungiku dan memberitahukan bahwa ada seorang pasien dalam keadaan kritis sedang dirawat. Ketika aku sampai, ternyata pasien tersebut adalah seorang pemuda yang sudah meninggal –semoga Allah merahmatinya-, lantas bagaimana detail kisah wafatnya? Setiap hari puluhan bahkan ribuan orang meninggal. Namun bagaimana keadaan mereka ketika wafat? Dan bagaimana pula dengan akhir hidupnya?

Pemuda ini terkena peluru nyasar, dengan segera kedua orang tuanya –semoga Allah membalas segala kebaikan mereka- melarikannya ke Rumah Sakit militer di Riyadh. Di tengah perjalanan, pemuda itu menoleh kepada ibu bapaknya dan sempat berbicara. Tetapi apa yang ia katakan? Apakah ia menjerit dan mengerang sakit? Atau menyuruh agar segera sampai ke rumah sakit? Ataukah ia marah dan jengkel? Atau apa?

Orang tuanya mengisahkan bahwa anaknya tersebut mengatakan kepada mereka, “Jangan khawatir! Saya akan meninggal. Tenanglah, sesungguhnya aku mencium bau surga!” Tidak hanya sampai disini saja, bahkan ia mengulang-ulang kalimat tersebut di hadapan para dokter yang sedang merawat. Meskipun mereka berusaha berulang-ulang untuk menyelamatkannya, ia berkata kepada mereka, “Wahai saudara-saudara, aku akan mati, maka janganlah kalian menyusahkan diri sendiri…karena sekarang aku mencium bau surga.”

Kemudian ia meminta kedua orangtuanya mendekat lalu mencium keduanya dan meminta maaf atas segala kesalahannya. Kemudian ia mengucapkan salam kepada saudara-saudaranya dan mengucapkan dua kalimat syahadat, “Asyhadu alla ilaha ilallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah,” dan ruhnya melayang kepada Sang Pencipta Subhanahu wa ta’ala.

Ia melanjutkan kisahnya, “Mereka membawa jenazah pemuda tersebut untuk dimandikan. Maka ia dimandikan oleh saudara Dhiya’ di tempat pemandian mayat yang ada di Rumah Sakit tersebut. Petugas itu melihat beberapa keanehan yang terakhir. Sebagaimana yang telah ia ceritakan sesudah shalat Maghrib pada hari yang sama.

1.Ia melihat dahinya berkeringat. Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin meninggal dengan dahi berkeringat.” Ini merupakan tanda-tanda khusnul khatimah.
2.Ia katakan tangan jenazahnya lunak, demikian juga pada persendiannya seakan-akan dia belum mati. Masih mempunyai panas badan yang belum pernah ia jumpai sebelumnya semenjak ia bertugas memandikan mayat. Pada tubuh orang yang sudah meninggal itu dingin, kering dan kaku.
3.Telapak tangan kanannya seperti seorang yang membaca tasyahud yang mengacungkan jari telunjuknya mengisyaratkan ketauhidan dan persaksiannya, sementara jari-jari yang lain ia genggam.

Saya bertanya kepada salah seroang pamannya, apa yang ia lakukan semasa hidupnya? Tahukah anda apa jawabnya? Tahukah anda apa jawabnya? Apakah anda kira ia menghabiskan malamnya dengan berjalan-jalan di jalan raya? Atau duduk di depan televisi untuk menyaksikan hal-hal terlarang? Atau ia tidur pulas hingga terluput mengerjakan sholat? Atau sedang meneguk khamr, narkoba dan rokok? Menurut anda apa yang telah ia kerjakan? Mengapa ia dapatkan khusnul khatimah (insyaAllah) yang aku yakin bahwa saudara pembaca pun mengidam-idamkannya; meninggal dengan mencium bau surga.
Ayahnya berkata, “Ia selalu bangun dan melaksanakan sholat malam sesanggupnya. Ia juga membangunkan keluarga dan seisi rumah agar dapat melaksanakan sholat Shubuh berjamaah. Ia gemar menghafal Al-Quran dan termasuk salah seorang siswa yang berprestasi di SMU.”

(Sumber: Serial Kisah Teladan Karya Muhammad bin Shalih Al-Qahthani, sebagaimana yang dinukil dari Qishash wa ‘Ibar karya Doktor Khalid Al-Jabir)

“Ada tujuh golongan orang yang mendapat naungan Allah pada hari tiada naungan selain dari naunganNya… diantaranya, seorang pemuda yang tumbuh dalam melakukan ketaatan kepada Allah.”

Thursday, June 12, 2008

Menangis itu Sehat

Mengapa anak kecil jarang yang stress? Apakah hubungannya dengan anak kecil sering menangis? Ternyata menangis itu menyehatkan jiwa.
Anak kecil selalu mengekspresikan emosinya. Ia mudah menangis, mudah tertawa, mudah meloncat-loncat kegirangan. Ketika tertawapun kuat ekspresinya. Emosi anak kecil tersalurkan dengan baik, hingga anak kecil jarang menderita stress atau depresi.
Orang dewasa sering memendam emosi. Mereka menganggap menahan emosi itu baik. Ternyata manusia tidak dapat memendam emosi begitu saja. Emosi yang terpendam akan terakumulasi di otak limbik.
Akibat yang terjadi adalah munculnya depresi. Terdapat sebuah penyakit dimana memasuki masa pensiun seseorang dihantui rasa ketakutan yang tidak dapat diketahui asal muasalnya. Ternyata, psikolog mendapatkan trauma tersebut disebabkan emosi ketakutan, rasa bersalah, kesedihan yang terakumulasi berpuluh-puluh tahun. Ia memendamnya dan mengakumulasinya dalam otak limbik (amigdala).
Seharusnya emosi dapat disalurkan dengan baik. Coba perhatikan, sehabis menangis apa yang kita rasakan? Hati menjadi ringan, plong, tidur nyenyak, hati menjadi lebih halus. Sungguh kasihan, orang yang tidak pernah lagi merasakan nikmatnya menangis.
Selamat menangis, menangis itu menyehatkan jiwa. Menangis membuat hati kita halus, peka.

(Credit to anyone who wrote this)

Friday, November 30, 2007

Kita dan Gerakan Penyelamatan Lingkungan

Ketiban sampur terus dapat posting berantai, sekarang gantian deh bikin pass the parcel buat dikerjakan, hehe...

Terkait dengan kondisi lingkungan yang semakin memburuk, yang dampaknya bisa langsung dan tidak langsung kita rasakan, tentu sangat tidak bijaksana jika kita tidak berbuat apa-apa untuk memberikan kontribusi terhadap penyelamatan bumi kita tercinta ini. Nah, parsel kali ini gampang aja kok, tuliskan apa saja hal yang sudah kita lakukan untuk membantu mengurangi efek negatif pola hidup modern yang merusak lingkungan, termasuk mengurangi laju global warming, juga hal-hal yang belum kita lakukan tetapi kita berencana untuk melakukannya. Apa yang kita sampaikan semoga bisa jadi inspirasi buat yang lain. Sebagai referensi, silakan baca disini dan disini.




Here I go
......

1. Menanam Pohon
Alhamdulillah, di rumah saya masih tersedia lahan yang lumayan luas sehingga bisa menanam beberapa jenis tumbuhan termasuk sebatang Pohon Talok (apa ya nama umumnya? Orang Malang biasa menyebutnya Ceri, tapi kita semua tahu yang namanya Ceri yang asli (cherry) mah beda banget ). Kata Pak Agus Gunarto (penerima Kalpataru dari Malang), pohon tersebut banyak menyerap karbondioksida dan menghasilkan oksigen. Well, tapi setelah membaca postingan ini, saya baru tahu bahwa supaya pohon bisa melaksanakan tugasnya menyerap CO2 dan menghasilkan O2 dengan maksimal, air dan nutrisi tanah sangat berperan *sighh...padahal kita tahu betapa buruknya kondisi air dan tanah kita sekarang ini*. Jadi tugas kita memang tidak ringan, jika ingin maksimal dalam usaha menyelamatkan bumi, selamatkan juga air dan tanahnya. Kemarin waktu browsing sebenarnya sempat nemu blog yang menjelaskan cara menyaring air hasil kegiatan rumah tangga, sehingga air yang keluar dari rumah kita sudah berupa air bersih (walaupun masih harus diproses jika akan dijadikan air minum), dengan bahan-bahan yang tidak terlalu sulit, sayangnya blog itu lupa gak disimpan –wong nemunya by accident- jadi ilang deh, ntar mo coba cari lagi, semoga ketemu. Bayangkan jika cara itu diterapkan, tentu semua rumah akan membuang air bersih ke selokan, yang mengalir ke sungai (dan terserap tanah) sehingga sungai-sungai di Indonesia bisa kembali bersih seperti seharusnya. Yah, dengan catatan tak ada yang membuang sampah ke sungai *another problem :(* .

2. Mengurangi Penggunaan Bahan Bakar Fosil
Yah, terus terang ini yang agak susah, soalnya kendaraan saya bahan bakarnya bensin (yang sepeda motor sanex matic 2 tak malah asapnya tebel banget dan boros bensin, apa ya yang harus dilakukan supaya bisa irit dan emisinya berkurang?), walaupun berharap banget suatu saat ada ganti yang hybrid atau tenaga surya atau semacamnya.
Untuk yang satu ini saya salut banget sama seorang ibu berputra 4 yang masih semangat kuliah dan kemana-mana selalu naik sepeda, beliau tetangga saya di rumah lama. Padahal beliau berjilbab rapat mulai atas sampai bawah lengkap dengan kaos kaki (bayangin aja gerahnya). Two thumbs up deh! Trus kenapa ya saya gak bisa? Hehe…ceritanya sih underestimate duluan, soalnya naik motor aja kalo nyampe di rumah selalu tepar, apalagi kalo naik sepeda? Tapi katanya kalo naik sepeda badan lebih segar ya? Hehe....yah semoga saya bisa (kasih semangat dong!). Tapi kalo deket-deket aja sih saya milih jalan kaki kok, kalo ada sepeda juga pakai sepeda aja, kalau jauh baru naik motor.

3. Memisahkan sampah
Saya kurang tahu apakah persoalan sampah ini punya kontribusi terhadap pemanasan global, tapi dampaknya terhadap lingkungan besar sekali, jadi saya masukkan ke list deh.
Kemarin waktu masih di rumah lama, kami sudah mulai membiasakan diri memisahkan sampah organik dengan anorganik, karena ada sedikit lahan untuk membuat lubang kompos dan setelah penuh dilanjutkan dengan composting di dalam tong milik tetangga. Tetapi setelah pindah rumah, kami belum sempat menggali lubang lagi untuk membuat kompos, jadilah sekarang sampah bercampur baur (terus terang saya selalu merasa bersalah setiap kali membuang sampah – kami menyumbang pencemar lingkungan). Yah semoga urusan barang-barang pindahan ini cepet beres jadi segera sempat menggali lubang lagi, doakan ya!!
Oya, sedikit cerita, bayam organik hasil tanaman kami tumbuh sangat subur lho, tanpa pestisida, dan pake pupuk alami. Daunnya besar-besar dan kami sekarang sedang mempertimbangkan untuk berbisnis rempeyek bayam organik (tapi selama ini gagal terus karena selalu habis dimakan sendiri, hehe....). Murah lho, sebungkus cuma 2500 perak. Siapa mau pesan?

4. Hemat Listrik dan Air
Well, kami sudah total memakai lampu hemat energi dan berusaha mematikan yang tidak perlu. Untuk air sepertinya agak susah karena kamar mandi rumah kami masih pakai bak mandi, bukan shower, jadinya masih menghabiskan banyak air. Mesin cuci juga masih pake top loading yang perlu banyak air *sigh*. Gimana ya, buat ganti juga perlu biaya yang nggak sedikit. Tapi jangan kuatir, yang ini masuk dalam daftar “Rencana” kok.

5. 3R – Reduce, Reuse, Recycle
Sekarang saya sedang membiasakan diri untuk membawa tas sendiri kemanapun, sehingga tidak harus menambah jumlah tas plastik setiap kali belanja. Juga menggunakan kembali kertas-kertas bekas (atau menjualnya ke tukang loak/tempat daur ulang), juga membeli barang-barang dengan logo recycle di kemasannya. Hanya saja saya mempunyai ganjalan tentang menggunakan bahan sekali pakai. Memang benar penggunaan bahan sekali pakai (mis: gelas plastik) akan menambah volume limbah kemasan, tetapi menggunakan barang bukan sekali pakai yang mengharuskan pencucian juga menyisakan limbah air sabun, kan? Kalau sudah begini pilih yang mana sebaiknya?
And u know what? Hampir setiap hari saya mengamati isi tempat sampah dan isinya mayoritas adalah kemasan. Gimana ya redusirnya?
Setelah baca ini, saya tambah membatasi diri pake tisu. Walopun emang dasarnya udah gak sering-sering amat pake tisu, paling kalo pergi-pergi aja, sekarang jadi mikir kalo perlu sekali digalakkan penggunaan sapu tangan deh...Kalo yang ini sudah sejak dulu kala nggak pernah ketinggalan (yang pernah sebangku sama saya pasti hapal deh, hehe...). Hidup sapu tangan!!

Well, sepertinya itu hal-hal yang sudah dan belum saya lakukan, termasuk juga masalah-masalah yang saya hadapi. Bagaimana dengan anda? Tulis ya...And pass this parcel to your friends. Yah, minimal 3 orang deh….
Parcel pertama buat:
>> Ida
>> Mbak Ida
>> Az&Fa
>> Siapa aja yang baca tulisan ini, hehe….kejebak deh….
Silakan dilanjutkan…..

Sunday, November 04, 2007

Spiritual for Success Leverage

Ikut yuukkk!!!

Sori, susah upload jadi klik disini ya

Labels:

Friday, September 01, 2006

Hikmah dibalik Syariat dan Tanda-tanda Kebesaran Allah dalam Diri Kita

  • Garis-garis di telapak tangan

Perhatikan garis-garis di telapak tangan kita. Garis-garis di tangan kiri menunjukkan angka 8 dan 1 (angka arab) dan tangan kanan menunjukkan angka 1 dan 8 sehingga jika angka ditangan kira dijumlahkan dengan tangan kanan akan menghasilkan 81+18=99 yaitu bilangan nama Allah (asmaul husna)

  • Cara makan:

      • Kenapa kita gunakan tangan?

Cara Rasulullah makan adalah dengan memasukkan makanan dengan tangan kanannya kemudian mengunyahnya sebentar, kemudian beliau mengambil sedikit garam menggunakan jarinya, lalu Rasul SAW akan menghisap garam itu, kemudian baru beliau mengunyah keseluruhannya.

Ternyata kedua belah tangan kita mengeluarkan 3 macam enzim, tetapi konsentrasi di tangan kanan lebih banyak daripada yang kiri. Enzim tersebut adalah enzim yang menolong proses pencernaan (digestion).

  • Mengapa menghisap garam?

Garam merupakan sumber mineral dari tanah yang diperlukan oleh tubuh kita. Dua cecah garam dari jari kita sama dengan satu liter air mineral. Selain sumber mineral, garam juga merupakan penawar yang paling mujarab untuk keracunan. Menurut medis, the first line of treatment for poisoning adalah dengan memberi sodium chloride, yaitu garam.

  • Cara Rasul SAW mengunyah

Beliau mengunyah sebanyak 40 kali untuk membiarkan makanan itu betul-betul lumat agar perut kita mudah memproses makanan itu.

  • Membaca Basmalah

Membaca basmalah sebelum makan dapat menghindarkan diri dari penyakit. Karena bakteri dan racun membuat perjanjian dengan Allah SWT, apabila dibacakan basmalah maka mereka akan musnah dari sumber makanan itu.

    • Cara Rasulullah SAW minum

Rasul SAW mengajarkan kita untuk minum dengan duduk dan melarang kita untuk minum dari tempat/wadah yang besar. Beliau juga melarang kita bernafas ketika sedang minum. Karena apabila kita minum dari tempat yang besar, kita tentu akan bernafas dan menghembuskan nafas. Apabila kita menghembuskan nafas, kita akan mengeluarkan CO2 (karbondioksida), yang apabila bercampur dengan air (H2O) akan menjadi H2CO3 (cuka), sehingga menyebabkan minuman itu menjadi acidic (asam). Hal ini berlaku juga jika kita meniup air yang panas. Makanan/minuman panas sebaiknya dikipas saja dan bukan ditiup. Sedangkan cara minum adalah dengan seteguk-bernafas, seteguk-bernafas sampai habis.

    • Mengapa Islam memerintahkan hukum cambuk 100 kali bagi orang belum kawin yang berzina dan merajam sampai mati orang sudah kawin yang berzina?

Tubuh manusia akan mengeluarkan sel-sel darah putih atau antibiotik yang dapat melawan penyakit (sistem imun). Sel-sel ini terdapat di daerah tulang belakang berdekatan dengan sumsum tulang manusia. Lelaki yang yang belum kawin dapat menghasilkan beribu-ribu sel ini, sedangkan lelaki yang sudah kawin hanya dapat menghasilkan 10 unit sel ini per hari. Hal ini disebabkan karena sel lainnya akan hilang karena hubungan suami istri.

Maka apabila lelaki yang belum kawin melakukan zina hendaklah dicambuk 100 kali. Alasannya adalah karena apabila dia dicambuk di bagian punggung, maka rasa sakit dan luka yang dialaminya akan merangsang sumsum tulang untuk menghasilkan beribu sel darah putih yang dapat melawan penyakit berbahaya (misalnya virus HIV) dalam tubuhnya. Tetapi apabila lelaki itu sudah kawin, walaupun dicambuk 100 kali ia akan tetap menghasilkan 10 unit antibodi saya, jadi hukumannya dirajam hingga mati agar dia tidak bisa menularkan penyakitnya (mis: virus HIV) itu.

    • Mengapa ka’bah terletak di Mekah al Mukarromah dan mengapa ia persegi empat (cube)?

Setelah dibuat kajian oleh para cendekiawan dari Pakistan dan Arab, ternyata posisi Ka’bah adalah tepat di tengah-tengah bumi.

Ia berbentuk kubus yang merupakan lambang perpaduan ummah yang bergerak maju bersama, equality and unity, tidak seperti bentuk lain seperti piramid misalnya, yang diumpamakan seperti seorang pemenang yang berada diatas setelah menginjak-injak yang lain.

(Diambil dari buletin eL-Ma’rifah edisi Juli 2006, buletin Ma’had Al Aly UIN Malang)