Saturday, June 12, 2010

Klaim Israel: Senjata yang Ditemukan di Mavi Marmara




Sumber:http://idfspokesperson.com/2010/05/31/pictures-of-weapons-found-on-the-mavi-marmara-flotilla-ship-31-may-2010/

Pisau dapur? Jadi ini yang mereka blow up ke dunia bahwa "Mavi Marmara membawa senjata!", mengerahkan pasukan penuh, kapal perang dan menembaki relawan dengan membabi buta, menewaskan 9 relawan dan melukai yang lain? Karena nyari pisau dapur? *geregetan*

Thursday, June 10, 2010

Ditembak Israel di Mavi Marmara (Kisah Surya Fachrizal Wartawan Hidyatullah.com)

Cerita lengkap Surya Fachrizal, wartawan Majalah Hidayatullah, sebagaimana dituturkan kepada Dzikrullah, yang menuliskannya untuk Sahabatalaqsha.com dan Hidayatullah.com.


Sahabat Al-Aqsha & Hidayatullah.com–AMMAN– Subuh itu masih gelap, Senin, 31 Mei 2010, namun suasana kapal Mavi Marmara sungguh kalang-kabut dan mencekam. Helikopter komando Israel menderu-deru dengan angin yang sangat kencang. Granat suara berdentum di mana-mana. Gas air mata merebakkan asap. Senjata api otomatis berentetan mencari mangsa. Peluru-peluru berdenting menyiram dinding kapal. Kulihat seorang lelaki Turki berpelampung berusaha masuk ke pintu kabin dek 4. Jaraknya dari saya hanya sekitar 4 meter. Kami berada di teras kapal sebelah kiri.

Belum sampai ke pintu, tiba-tiba dia jatuh terlentang, lalu memukul-mukulkan tangan kanannya ke lantai kayu seperti menahan sakit yang amat sangat. Karena tak ada yang menolongnya saya langsung mendatanginya. Belum sempat saya menyentuhnya, mendadak seperti ada besi martil menghantam perut saya yang sebelah kanan. Sakitnya luar biasa. Saya langsung jatuh terjerembab dalam posisi berbaring dan menindih kamera pinjaman, Canon EOS 400D semi-pro dengan lensanya cukup besar dan panjang. Saya sempat menyingkirkan benda itu agar bisa berbaring lebih leluasa, karena tiba-tiba nafas menjadi sangat susah.

Terasa ada yang memapah saya masuk ke lobi kecil dekat ruang wartawan. Lalu saya dibaringkan, sesudah itu kesadaran saya timbul tenggelam. Rasanya dingin sekali. Beberapa orang menjepretkan kamera ke arah saya. Kulihat Yasin, jurukamera TVOne, mendekat sambil merekam tapi ia lalu seperti tak tega, dan berhenti merekam. Pelampungku dilepas. Karena melihat nafasku tersengal-sengal seseorang memasangkan masker oksigen. Lumayan lega, tapi rasa sakit di perut makin menghebat, nyeri sekali.

Tak lama kemudian saya digotong turun ke lobi dek 3 yang lebih luas di depan ruang informasi. Bau anyir darah sangat tajam menusuk. Ruangan itu sudah penuh sesak oleh korban yang bergelimpangan dan orang-orang yang berusaha menolong.

Dibantu Mas Dzikrullah dan Abdillah, seorang dokter berkaos IHH, wajahnya seperti orang India, menggunting semua bajuku. Dia ingin memastikan letak luka sumber rasa sakitku. Lalu seorang dokter Malaysia berusaha memasang jarum infus di lenganku. Berkali-kali ditusuknya tanganku.

Akhirnya sesudah infus terpasang, saya digotong dan ditempatkan di salah satu kursi ruang makan yang jadi hall tempat tidur ratusan relawan laki-laki. Oksigen terpasang. Rasanya agak mendingan. Nafasku masih sesak, tapi rasa sakit di perut kanan sudah banyak berkurang. Mungkin ada yang menyuntikkan pain killer. Dr Arief dari MER-C sempat memeriksa luka dan menenangkan saya.

Saat itu saya lihat orang hilir mudik menolong para korban. Tadinya saya tidak tahu, tapi setelah mendengar ada yang membacakan surat Yasin, baru saya sadar, ada sesosok jenazah terbujur di lantai dekat ujung kaki saya. Sesekali orang mengerumuni dan mendoakannya.

Saya sendiri waktu itu tidak membayangkan kalau beberapa saat setelahnya akan dibawa tentara Israel. Bayangan saya, “Ah… kayaknya sudah nggak bakal sampai ke Gaza nih. Pulang ah… Main sama anak-anak dan nulis berita…” Sesudah itu, yang paling banyak terpikirkan bagaimana memilih angle tulisan, dan apa saja yang mau ditulis.

Terus terang saya sempat bingung mau nulis apa setiap hari, sejak di Istanbul. Karena saya menyiapkan diri untuk menulis features di majalah, dan tidak terlalu siap menulis hard news. Alhamdulillah, kami bertiga, saya, Mas Dzikru dan Mbak Santi, jadi bisa bergantian mengirim berita pendek setiap hari.

Tak lama kemudian, pasien cedera di hall tempat saya berbaring sudah pergi semua. Karena itu saya digotong lagi oleh teman-teman Indonesia, dipindahkan ke hall yang masih banyak orang cederanya. Mereka yang sehat sebagian besar sudah disuruh keluar oleh tentara Israel lewat pintu belakang . Saya tak tahu mereka kemana, sebab rasanya kapal itu masih berlayar tapi tujuan akhirnya masih jauh.

Sesudah semua penumpang yang sehat habis, Hanin Zo’bi, anggota parlemen Israel orang Arab-Palestina di dekat saya minta kepada tentara agar tidak semua diangkut helikopter karena banyak yang terlalu parah. Saya sendiri berusaha untuk tidak pingsan. Alhamdulillah. Saya nggak sadar ada Okvi atau tidak di samping saya.

Tahu-tahu seorang tentara Israel menyuruh saya berdiri dan berjalan. Setelah melihat-lihat keadaan saya sebentar, tentara Israel berkulit bule dan berpenutup muka itu bilang, “Yes, you can walk. Stand up and walk up stairs… I will help you to stand.” Saya pikir, gile juga nih orang, gue baru ditembak disuruh jalan. Sesudah saya berdiri saya dibiarkan jalan sendiri, terhuyung-huyung. Dia membantu memegangi infus di belakang saya.

Nafas memang sudah mulai teratur, tapi badan rasanya lemas sekali. Alhamdulillah tidak terasa sakit. Saya sama sekali tidak membayangkan, apa yang belakangan ditemukan dokter dan tertulis di status medis saya, bahwa peluru menghantam dada kanan atas saya, masuk menyerempet paru-paru, mematahkan rusuk kanan terakhir, merobek diafragma, menyerempet liver sedikit, dan kemudian peluru itu berhenti sebelum menyentuh tulang panggul.

Berjalan kaki dari kursi makan tempat saya berbaring menuju dek 6 di atap kapal rasanya kelabu. Saya benar-benar sendirian. Semua ruangan kapal yang saya lewati sudah kosong melompong dari para relawan. Tentara Israel lalu lalang.

Dari dek 3 saya keluar ke teras sebelah kanan, lalu saya berjalan lewat tangga besi berpagar, muncul di teras dek 4 dekat ruang wartawan, lalu naik lagi tangga besi ke dek 5 dekat anjungan kapten. Sepanjang jalan kulihat suasana sangat berantakan tapi tanpa manusia. Nampak bekas-bekas perkelahian, alat-alat elektronik, matras, besi-besi bekas pagar kapal, darah berceceran di mana-mana.

Yang paling parah, tangga vertikal dari dek 5 ke dek 6, penuh dengan lumuran darah. Saya dipaksa naik lewat tangga yang tegak itu. Rasanya berat sekali.

Sempat celana saya kedodoran, lalu diperbaiki oleh tentara yang mengawal. Celana saya memang sudah terbuka sejak pertama kali disuruh berdiri oleh tentara Israel di dek 3.

Sesampainya di atap alias dek 6, saya lihat ada sekitar 10 orang yang luka parah seperti saya. Nampaknya kebanyakan orang Turki. Angin kencang yang berasal dari helikopter seperti hendak menerbangkan saya, sampai kupegang botol infus sendiri, takut diterbangkan juga, karena selang infus sudah mengibas-ibas hebat.

Begitu giliran saya tiba untuk diangkut ke atas helikopter, saya diikat ditandu, lalu dikerek ke atas ditandem dengan seorang paramedik AL Israel. Sesampainya di dalam helikopter, yang menyambut saya seorang dokter bule Israel berkaca mata. Dia memeriksa luka, bahkan membelah sedikit bagian yang tertembak, seperti mencari peluru. Sakitnya luar biasa. Tapi mereka tidak menemukan peluru lalu ditutup lagi.

Saya lihat ada seorang pasien lain di helikopter. Seorang Turki bertubuh agak gemuk. Saya lihat indikator jantungnya sudah tidak memberikan sinyal naik turun. Hanya ada garis lurus. Sempat terpikir, “Nih orang masih hidup nggak ya?”

Kemudian dua orang tim medis, mungkin dokter, satu yang tadi berkaca mata, satu lagi botak, dua-duanya bule, memutuskan untuk menyuntik sesuatu dan menyayat saya di iga sebelah kanan. Sepertinya mereka menemukan perdarahan di dalam dan hendak mengeluarkan. Terasa ada darah menyembur dari sayatan itu, lalu mereka memasang selang yang belakangan baru aku tahu, gunanya untuk mengeluarkan darah. Belakangan saya diberi tahu darah yang keluar 1000 cc.

Kedua paramedik bule itu sepertinya sangat gembira setelah berhasil memasang selang itu. Karena saya lihat mereka bersalaman sesudah merampungkan pekerjaannya. Paramedik yang botak sering mengacungkan jempol dan berkata “OK” kepada saya sambil tersenyum.

Dalam waktu sekitar 20 menit helikopter mendarat di sebuah helipad di sebuah dataran terbuka. Hampir tidak ada bangunan di sekitarnya. Helikopter atau pesawat lain juga tidak terlihat. Saya kemudian diangkut dengan ambulan. Di ambulan saya bertanya nama tempat itu kepada paramedik Botak tadi. Dia menjawab, “Haifa…”

Sesudah 10 menit, sampailah kami di sebuah rumah sakit dan di situ saya bertemu dengan beberapa pasien lain yang kebanyakan relawan Turki. Seluruh pakaian saya dibuka, diganti pakaian pasien berwarna putih. Seorang perawat perempuan menanyakan nama. Saya hanya menunjukkan kantong celana tempat paspor saya. Diambilnya lalu dia menuliskan identitas saya. Sejak itu nama saya disebut dengan cara berganti-ganti, “Suuuriya… Suraya… Suryaaa…” Kebanyakan sejak hari itu memanggil “Suraya”, mungkin gara-gara penulis pertama menulis dalam bahasa Ibrani dengan ejaan seperti itu.

Sesudah itu saya diperiksa secara maraton, dipindahkan dari satu meja periksa ke meja periksa lainnya. Saya ditanya apakah bisa berbahasa Inggris. Saya diberitahu seseorang berseragam rumah sakit warna biru muda, “Anda tidak perlu bergerak sama sekali, kami yang akan memindahkan Anda.” Mereka bekerja cepat dan cekatan. Kesan saya para dokter dan perawat Israel itu orang-orang yang selalu ingin bekerja cepat, tidak pernah diam atau santai, selalu bergerak dan melakukan sesuatu. Kayak orang kebelet kencing.

Saya dibawa dan diperiksa dari meja ke meja hampir tidak ada jeda. Begitu selesai CT-Scan saya sudah langsung mau dioperasi. Saya sempat disodori dua lembar dokumen yang harus ditandatangani dua-duanya, dan diberitahu akan dioperasi. Saya sempat bertanya, “Apakah [operasi] ini benar-benar perlu?”

“Ya perlu sekali. Supaya kita tahu luka apa saja yang ada di dalam tubuh Anda,” jawab seseorang berseragam medis.

Sesudah tanda tangan, saya langsung dibawa ke kamar operasi, dan diberitahu bahwa akan dianastesi alias dibius total. Ruang operasi itu terasa dingin sekali. Tapi beberapa detik kemudian saya sudah tak ingat apa-apa…………

* * *

Saat pertama kali sadar, saya terbangun di sebuah kamar bersama empat pasien lain. Seorang diantaranya relawan Turki, yang lain saya tak kenal, mungkin pasien Israel. Di sekeliling saya sudah ada empat atau lima orang dokter dan perawat. Seseorang maju mendekat sambil berkata, “Let me check it.”

Lalu dia membuka ikatan baju pasien di belakang, untuk melihat dada saya. Saya kaget setengah mati melihat dada saya, “Wah, bener-bener dibongkar nih gue…” Sebuah bekas sayatan membujur dari bawah ulu hati terus sampai sekitar 6 jari di bawah pusar, sudah dalam keadaan terjahit rapi dengan logam semacam staples. Tidak ada bekas darah sedikit pun. Lubang bekas jalan masuk peluru juga dijahit dengan staples, ada jahitan lain di dekatnya, tapi saya tak tahu itu luka apa. Alhamdulillah, saya hanya sangat bersyukur proses operasi itu semua saya lalui dalam keadaan sama sekali tidak sadar.

Baru mulai saat itulah saya merasakan atmosfir Yahudi di sekitar saya karena orang-orang saling menyapa dan berbicara dengan bahasa Ibrani. Saya lihat pemandangan di luar jendela indah. Tanahnya berbukit-bukit dan hijau. Ruangan kamar kami berpendingin.

Alhamdulillah, saya sama sekali tidak merasa khawatir, yang ada rasa bosan. Komunikasi saya dengan relawan Turki di kamar saya hanya senyum dan berpegangan tangan. Kami tak saling mengerti bahasa satu sama lain.

Seorang petugas berseragam biru muda, kadang-kadang mengenakan kaos polo, selalu ada di dalam kamar bergantian dengan temannya. Tadinya saya kira dia polisi, ternyata petugas imigrasi. Sejak hari Senin malam sampai Kamis siang saya tidak melakukan apapun kecuali berbaring dan menunggu waktu solat. Saya berpikir mudah-mudahan apa yang sudah kami lakukan tidak sia-sia. Sempat juga terpikir kapan bisa berkumpul keluarga.

Hari Rabu siang, seorang lelaki bule Yahudi yang ramah mengaku bernama Steve, menemui saya di kamar. Dia didampingi dua orang berseragam putih bergaris-garis biru dari Magen David Adom (Bintang David Merah, palang merahnya Israel). Di punggungnya ada bintang David merah. Steve yang gemuk dan mengenakan kaos polo merah itu bilang, “Beberapa hari yang lalu saya baru tiba dari Jakarta. Seminggu saya di Jakarta. Saya sudah kontak dengan departemen kesehatan Indonesia, dr Rustam. Begitu sehat, kami akan mengurus kepulangan Anda.”

Kunjungan singkat Steve dan kawan-kawan hanya sekitar 10 menit. Saya sendiri saat itu masih suka tertidur tanpa sadar, mungkin pengaruh obat pain killer yang terus-menerus diberikan, mungkin juga karena nyaman bernafas dengan tabung oksigen.

Yang menggembirakan, hari Kamis, saya menerima telepon istimewa. Duta Besar Yordania untuk Israel menelepon saya diatur oleh seorang diplomat Yordania yang bisa berbahasa Indonesia. Rasanya senang sekali, karena mulai ada titik terang.

Tapi rupanya ada kejutan menyenangkan berikutnya, dengan fasilitas teleconference, para diplomat Yordania menghubungkan saya dengan Duta Besar Indonesia di Amman, Yordania, Pak Zainulbahar Noor. Setelah menanyakan keadaan saya, beliau menawarkan kalau saya mau bicara dengan salah satu teman. “Di Yordania sini banyak teman Anda…” kata beliau.

Saya sama sekali tidak menyangka bahwa yang dimaksud “teman-teman” itu adalah teman-teman relawan dan wartawan Indonesia. Karena dalam bayangan saya, teman-teman relawan dan wartawan Indonesia yang ada di Mavi Marmara masih ditahan di penjara Israel. Jadi saya bilang, “Terserah lah Pak…” Jadi kaget dan senang sekali begitu yang bicara Mas Dzikrullah meskipun cuma sebentar. Alhamdulillah.

Menjelang malam, petugas imigrasi yang menjaga kamar saya memberitahu ada seorang pengacara mau berjumpa saya. Namanya Suhad Bisyara, pengacara wanita pembela hak-hak minoritas Arab dari LSM bernama ‘Adalah. Dia memberikan kartu namanya, semacam lembaga bantuan hukum. Dia menawarkan bantuan apa saja yang diperlukan. Saya bilang, kalau boleh saya perlu pakaian. Malamnya dia datang lagi memberikan dua kaos satu celana dan pakaian dalam.

Relawan Turki yang sekamar dengan saya sudah dijemput pulang. Hari Jumat pengacara Arab itu datang lagi. Dia menanyakan apakah bajunya cocok atau tidak, dan kapan kira-kira ada yang menjemput saya. Saya bilang ada kabar saya akan dibantu kedutaan Yordania.

Saya bertanya kepada petugas imigrasi yang menjaga saya, “Mungkin nggak besok saya dievakuasi ke Yordania?”
“Nggak mungkin, besok hari Sabbath, nggak ada yang kerja,” katanya.

Sesudah itu obrolan mengalir, tapi searah. Dia mulai ngomong sendiri, katanya kami (Israel) sudah memperingatkan kapal Mavi Marvara. Menurut dia Gaza itu zona militer. Tidak ada yang boleh masuk. Monolog itu terus mengalir, “Dunia menuduh kami membunuh anak-anak, padahal kami mengincar teroris. Hanya saja para teroris itu pengecut, bersembunyi di balik perempuan dan anak-anak. Jadi kalau kamu bilang kapal itu (Mavi Marmara) kapal perdamaian, think again…”

Rupanya mesin yang berusaha mengeluarkan saya dari rumah sakit Israel bergerak cukup cepat. Hari Sabtu, kembali atas bantuan duta besar Yordania untuk Israel, saya disambungkan dengan Pak Zainulbahar, Dubes Indonesia di Amman, yang menanyakan keadaan saya dan kesiapan saya dievakuasi dengan ambulan. Rupanya Pak Dubes sudah bicara dengan dr Hani Bakush yang mengoperasi saya, dan dinyatakan saya siap dievakuasi kapan saja.

Hari Ahad saya sudah diluncurkan dengan ambulan dari RS Rambam Medical Center, Haifa, berangkat jam 9.05 pagi dan tiba di check-point perbatasan Yordania-Palestina terjajah King Hussein Bridge jam 12 siang, di sela-selanya sempat bertukar ambulan di tapal batas dari ambulan Israel ke ambulan Yordania.

Di King Hussein Bridge perasaan saya berbunga-bunga. Nggak nyangka begitu banyak yang menjemput terutama wartawan-wartawan dari Indonesia termasuk Mas Dzikru. Ternyata teman-teman relawan juga ada, Mbak Santi, Ust Ferry Nur, Muhendri, Dito, dr Arief. Rasanya lega bisa berkumpul bersama mereka lagi. Alhamdulillah.
**(Sahabatalaqsha.com & Hidayatullah.com)

Tuesday, February 16, 2010

Ketika ada tantangan, kreatiflah!

Oleh: Agung Pribadi (Komunitas Bisa - Fesbuk)

Sejak revolusi Iran tahun 1979, Iran adalah satu-satunya Negara di dunia yang berani memproklamirkan diri sebagai Negara yang “Tidak memproduksi film bertema kekerasan dan seks”. Di Iran juga Badan Sensor Film nya sangat ketat.

Apakah Sineas Iran memprotes keberadaan Badan Sensor Film seperti di Indonesia? Tidak! Mereka tetap membuat film. Mereka menekankan untuk memperbagus acting dan penceritaan.

Hasilnya? Film-film Iran sering mendapat penghargaan dalam festival-festival film internasional bergengsi seperti Cannes di Perancis dan Berlin film festival di Jerman. Ketika mendapat kesulitan berupa sensor yang sangat ketat, para sineas Iran mengatasinya dengan kreativitas.

Ketika krisis ekonomi melanda Indonesia tahun 1998 dan harga telur melambung 4 x lipat, Ade Rai sebagai atlet binaraga sangat kesulitan karena ia harus mengonsumsi putih telur dalam jumlah besar. Apakah ia menyerah? ATau minimal mengeluh? Tidak! Ia mengganti konsumsi telur dengan mengonsumsi tempe yang harganya jauh lebih murah.

Hasilnya? Ade Rai berhasil menjuarai Kejuaraan Binaraga Asia tahun 1998. ketika mendapat kesulitan Ade Rai tidak mengeluh. Ia mengatasinya dengan kreativitas.

Pada tahun 1998 ini juga harga pakan ternak yang mayoritas barang impor melambung 4 x lipat. Pengusaha peternakan yang bagaimana yang bisa bertahan? Pengusaha yang dengan kreativitasnya membuat pakan ternak sendiri berbahan kulit telur, cangkang udang, cangkang kepiting, duri ikan, duri cumi, dan tulang ayam.

Jadi ketika menghadapi tantangan atau ditimpa kesulitan kreatiflah!
Itulah kunci kesuksesan.

Gua nggak butuh sholat! Buat apa sih Sholat?

Mohon maaf bila judulnya bikin emosi. insyaAllah isinya gak separah judulnya, itu cuman bikin penasaran aja. Saya cuman pengen berbagi, saya dapet email dari temen di sebuah milis. email itu isinya cerita begini:

Anak : Pa, solat itu buat apa sih?

Ortu : (menghardik) Udah, lu jangan tanya-tanya macem-macem.. kapir lu nanti!

Anak : (terdiam)

Belasan tahun kemudian, si anak bertemu lagi dengan saya. Mana saya tahu kalau dia dulu tunya-tanya kayak gitu kan ? Biar gampang, kita sebut aja dia Boni.

Saya : Woy, jumatan atuh.. orang-orang udah pada ngabur!

Boni : Hoream ah…. keur naon solat? (males ah, buat apa sholat?)

Saya : (untung ajah, dulu kenyang di plonco adik PAS) Dasar.. Ari kamu sholat buat apa?

Boni : Saya mah, sholat kalo butuh dong. Nggak solat kalo aku nggak merasa butuh. Solat itu harus merupakan kebutuhan, bukan kewajiban dong. Tuhan nggak butuh solat kita, yang butuh itu kita! Sekarang gua lagi nggak butuh solat, jadi buat apa gua solat. PEUN.

Saya : Itu betul, memang kita harus punya sense ‘butuh’ terhadap sholat. Tapi, menurut gua, kita tetep ‘wajib’ sholat, meskipun kita sedang tidak ‘butuh’.

Boni : Buat apa? Menurut gua, disitulah letak nggak gunanya solat.
Lebih cuih lagi, kalo orang solat buat ngejar ‘gelar’, gua paling nggak suka!

Saya : Maksud loe?

Boni : Ya itu, jenis-jenis manusia yang solatnya buat pamer, kalo dia itu paling soleh!! Menurut gua sih, kalo die solat seribu rokaat juge, kalo abis solat die korup, die membunuh, die menjelekkan orang, menggunjing, tetep aje die tu, lebih buruk, dibanding orang nyang gak solat tapi berbuat baik sama orang lain!

Saya : Lu bener di satu sisi..Orang yang menzalimi orang lain, meski solat, tetep lebih buruk dibanding yang gak solat tapi berbuat baik

Boni : Tuu, bener kan gue!

Saya : Tapi di sisi lain, lu juga salah Bon! Menurut saya nih, solat tetep wajib!

Boni : Salah gimane? Ah paling lu mau ngeluarin ayat.

Saya : Ok, kita pake akal aja. Nah, sekarang saya mau nanya neh. Gaji lu berapa Bon?

Boni : Rahasia dong.. yah oke deh, sekitar 3-an lah

Saya : Lu kerja berapa jam sehari tuh, buat 3-an itu? 8 jam sehari ada nggak?

Boni : Ya iya lah.. lebih kali

Saya : Selain itu, saya yakin kalo lu dapet segitu, karena skill dan gelar lu kan ? Gak cuma karena kerjaan lu. Yang jelas, pengorbanan lu untuk dapet gaji segitu, lebih banyak dari sekedar kerja 8 jam sehari. Bener gak?

Boni : Bener banget! Tapi segitu juga udah untung. Gua suka dapet bonus, jadi gua yah, berterimakasih banget dah, sama Boss gua. Dia care banget sih sama kita.

Saya : Nah, Bon, ngomong-ngomong lu pernah denger ada jual beli ginjal gak buat transplantasi?

Boni : Oh iya dong, gile, satu ginjal ada satu milyar kali! Gua sih nggak bakal jual. Gila aja kali! Ntar gua pake apa dong?

Saya : Nah lu dikasih semilyar, kok gak mau berterimakasih sama sekali?

Boni : Bentar-bentar gua nggak ngerti neh.. dikasih semilyar gimana?

Saya : Tuh, mata loe… harganya berapa? Ok, ginjal satu milyar kan ? Oh ya, belon ntu tuh, kuping, mulut, muka… hm, loba euy (banyak euy), semua jatuhnya berapa ya? Trilyunan tuh.
Tapi semuanya dikasih gratis…

Boni : ……..

Saya : Bon, Sekali lagi neh, menurut aku, sholat tetep wajib, karna, itu salah satu cara kita untuk berterimakasih sama Yang ngasih badan kita, rejeki kita, keberuntungan kita, yah, segalanya yang udah Dia kasih dah.

Kita rela bekerja 8 jam sehari untuk mendapatkan 3 juta rupiah. Kita sangat berterimakasih sama orang yang ngasih kita tambahan bonus sekedar seratus-duaratus ribu, tapi kita kadang lupa berterimakasih sama ’seseorang’ yang ngasih kita mata, mulut, tangan, kaki, ginjal, yang harganya jauh lebih mahal kalo kita jual. Well, bahkan bisa dibilang tak ternilai harganya. CUma orang kepepet berat atau orang bodoh yang mau jual badan dia sendiri.

Memang idealnya, orang solat tuh terhindar dari perbuatan buruk. Toh solat kan aslinya mencegah perbuatan buruk, dan membuat kita terbiasa melakukan perbuatan baik. Tapi itu kalau dia menghayati makna sholat sebagai sarana mengingat Tuhan, bukan sekedar menggugurkan kewajiban (seperti saya hehehe).

Di situasi ideal ini, selepas sholat, orang jadi mengingat kembali, betapa banyak yang Tuhan berikan dan lakukan demi kebaikan kita. Coba aja telaah arti bacaan shalat dan arti gerakan solat. So pasti lu temukan deh, banyak bacaan solat maknanya kearah ini.

Karena dia ngeh bahwa Tuhan selalu melihat, dan telah banyak berbuat buat dia, dia bakal berfikir 1000 kali buat berbuat hal yang nggak Tuhan sukai.

yah kalo solatnya sekedar nyari gelar seperti yg lu bilang sih, memang gak bakal ada manfaatnya.

Tapi lu cerdas Bon, lu juga SQ-nya tinggi, makanya lu nggak mau solat sekedar menggugurkan kewajiban. Karena itu, lu pasti ngerti bahwa solat tetep wajib, meski kita lagi nggak butuh solat. Kita wajib solat, untuk berterimakasih sama yang telah ngasih kita segalanya.

Boni : Seandainya dulu bapa gua ngejawab kayak gitu, gua mungkin gak bakal terlalu anti solat ya…

Saya :? ???

Boni : Sudahlah, gak usah dibahas… Tapi thanks ya.. gua jadi ngerti neh.

================================================== =======

yah, alhamdulilah, berkat dialog yang kacrut ini (aslinya jauh lebih ngalor ngidul dan panjang), Boni sekarang rajin shalat, dan berusaha menghayati solatnya. Semoga aku jg ketularan Boni ya

teman-teman… jangan pernah berhenti mencari jawaban tentang sesuatu yang kita nggak ngerti tentang Tuhan atau agama. Banyak orang kecewa terhadap agama (apapun), kemudian jadi atheis, atau punya sekte sendiri, cuma karena pertanyaan dia tidak terjawab.

Bertanyalah pada ulama, bila belum puas, cari ulama lain, bila nggak puas juga, layangkan email ke ulama di luar negeri. Atau berdiskusilah dengan banyak teman-teman. Jangan puas dengan hanya satu jawaban. Jadilah pencari Tuhan yang sebenar-benarnya.

Bukan pencari Kebenaran Hakiki namanya, kalo cuma ngaku-ngaku aja. jangan ngaku pencari kebenaran, kalo tak pernah mencari.

buat para ortu, jangan sampai menghardik anak bila nggak ngerti ngejawab pertanyaan. Mendingan bilang terus terang aja, kalo bapa nggak bisa, ntar kita cari sama-sama. thats it

YOURE a father NOT a superhero.

yah, semoga bermanfaat dan bisa kita ambil hikmah dari cerita ini

penulis M. Febriansyah Z


sumber
h*ttp://www.rozy.web.id/bengkel-hati/gua-nggak-butuh-sholat-buat-apa-sih-sholat/

Sunday, February 14, 2010

Century: Rekening Fiktif?

Membaca koran kemarin, saya benar-benar heran dengan temuan Pansus. Rekening fiktif di Bank Century bertebaran? How come? Kenapa bisa rekening dibuat sedemikian rupa dan bisa menarik dana yang jumlahnya gila-gilaan?

Dari sini saja kita bisa menyimpulkan kalau manajemen Bank Cantury memang benar-benar kacau dalam menjalankan Bank tersebut. Ngemplang, money laundring, belum lagi memindah dana nasabah dari deposito ke reksadana seenak jidatnya.

Kalau yang seperti itu masih dapat pengampunan dari pengadilan, yang lain bisa ikut-ikut juga.

Ternyata ada juga ya, orang-orang beritikad buruk memegang kendali lembaga keuangan (diteriakin: banyak kaleee). Yah, resiko negara dengan kepastian hukum yang diragukan...

Wednesday, March 25, 2009

Oggix Kenapa Ya?

Aduh itu shoutbox kagak bisa diapa-apain.
Masa login ke Oggix udah masuk disuruh login lagi? Trus login lagi, masuk, eh disuruh login lagi? Ini lagi error ato emang punya saya aja yang error yah?

Yang laen pernah kayak begini gak ya? Udah spamnya segunung lagi. Ahhhh!!!!

*postingan terpendek dan terparah*
*biarin ah*
*beginilah kalo maksa apdet blog*

Wednesday, January 14, 2009

Kasih Jalan Dong!!

Hari ini setengah ngebut (tumben-tembenan, selama hamil, biasanya saya nyetir pelan-pelan) saya memacu kendaraan menuju kantor pajak. Bayangkan, kemarin, setelah ngantri berjam-jam di kantor pajak Malang Utara, ternyata dengan sukses saya KELIRU sodara-sodara! Harusnya saya ngurus NPWP di kantor pajak Malang Selatan karena kecamatan sesuai KTP saya memang diurus kantor pajak wilayah itu. Jadilah hari ini -membayangkan antrian panjang seperti kemarin- saya ngebut menuju kantor pajak Malang Utara, mengambil berkas -dengan bonus tampang sangar satpam karena dia harus bolak-balik ke kantor bagian dalam buat nyari seorang petugas berkacamata yang saya lupa enggak nanya namanya- lalu ngebut lagi ke kantor pajak Malang Selatan dan mengambil nomor antrian.

Diantara kebut-kebutan itu, ada kejadian yang bikin saya dongkol setengah mati. Di tengah jalan, dari jauh -di depan saya beberapa puluh meter- terlihat sebuah mobil Ambulan dengan lampu sirine menyala -enggak meraung-raung sih >> kesian amat itu sirine- tapi berjalan merayap diantara lalu lintas yang lumayan padat. Karena ngebut, akhirnya saya berada cukup dekat di belakang Ambulan itu. Ketika sampai di sebuah pertigaan, dengan santainya kendaraan-kendaraan dari arah kiri melaju memotong jalan Ambulan tersebut, memaksa Ambulan itu untuk berhenti. Melihat itu saya dongkol setengah mati, pengen banget teriak, "Hooiii, kasih jalan dooonggg!!!" Bener-bener dah itu orang-orang, kagak ngarti apa kalo mungkin ada orang sekarat di dalam Ambulan itu. Mereka -para pengendara itu- mungkin tergesa-gesa ato apalah, tapi sepenting apapun urusan mereka, tak ada yang lebih penting dari menyelamatkan nyawa manusia kan? For God's sake! Pada kemana sih hati nurani mereka? Kenapa cuma mikir diri sendiri? Untunglah setelah itu Ambulan itu dapat jalan yang lumayan lancar dan meluncurlah ia dengan mulus. Siapapun yang ada di dalamnya, semoga masih tertolong....
Tinggallah saya dibelakang, menyetir dengan benak penuh pikiran, "Inikah orang-orang Indonesia?"

Monday, August 25, 2008

Mencium Bau Surga

Seorang Dokter bercerita kepadaku, “Pihak Rumah Sakit menghubungiku dan memberitahukan bahwa ada seorang pasien dalam keadaan kritis sedang dirawat. Ketika aku sampai, ternyata pasien tersebut adalah seorang pemuda yang sudah meninggal –semoga Allah merahmatinya-, lantas bagaimana detail kisah wafatnya? Setiap hari puluhan bahkan ribuan orang meninggal. Namun bagaimana keadaan mereka ketika wafat? Dan bagaimana pula dengan akhir hidupnya?

Pemuda ini terkena peluru nyasar, dengan segera kedua orang tuanya –semoga Allah membalas segala kebaikan mereka- melarikannya ke Rumah Sakit militer di Riyadh. Di tengah perjalanan, pemuda itu menoleh kepada ibu bapaknya dan sempat berbicara. Tetapi apa yang ia katakan? Apakah ia menjerit dan mengerang sakit? Atau menyuruh agar segera sampai ke rumah sakit? Ataukah ia marah dan jengkel? Atau apa?

Orang tuanya mengisahkan bahwa anaknya tersebut mengatakan kepada mereka, “Jangan khawatir! Saya akan meninggal. Tenanglah, sesungguhnya aku mencium bau surga!” Tidak hanya sampai disini saja, bahkan ia mengulang-ulang kalimat tersebut di hadapan para dokter yang sedang merawat. Meskipun mereka berusaha berulang-ulang untuk menyelamatkannya, ia berkata kepada mereka, “Wahai saudara-saudara, aku akan mati, maka janganlah kalian menyusahkan diri sendiri…karena sekarang aku mencium bau surga.”

Kemudian ia meminta kedua orangtuanya mendekat lalu mencium keduanya dan meminta maaf atas segala kesalahannya. Kemudian ia mengucapkan salam kepada saudara-saudaranya dan mengucapkan dua kalimat syahadat, “Asyhadu alla ilaha ilallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah,” dan ruhnya melayang kepada Sang Pencipta Subhanahu wa ta’ala.

Ia melanjutkan kisahnya, “Mereka membawa jenazah pemuda tersebut untuk dimandikan. Maka ia dimandikan oleh saudara Dhiya’ di tempat pemandian mayat yang ada di Rumah Sakit tersebut. Petugas itu melihat beberapa keanehan yang terakhir. Sebagaimana yang telah ia ceritakan sesudah shalat Maghrib pada hari yang sama.

1.Ia melihat dahinya berkeringat. Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin meninggal dengan dahi berkeringat.” Ini merupakan tanda-tanda khusnul khatimah.
2.Ia katakan tangan jenazahnya lunak, demikian juga pada persendiannya seakan-akan dia belum mati. Masih mempunyai panas badan yang belum pernah ia jumpai sebelumnya semenjak ia bertugas memandikan mayat. Pada tubuh orang yang sudah meninggal itu dingin, kering dan kaku.
3.Telapak tangan kanannya seperti seorang yang membaca tasyahud yang mengacungkan jari telunjuknya mengisyaratkan ketauhidan dan persaksiannya, sementara jari-jari yang lain ia genggam.

Saya bertanya kepada salah seroang pamannya, apa yang ia lakukan semasa hidupnya? Tahukah anda apa jawabnya? Tahukah anda apa jawabnya? Apakah anda kira ia menghabiskan malamnya dengan berjalan-jalan di jalan raya? Atau duduk di depan televisi untuk menyaksikan hal-hal terlarang? Atau ia tidur pulas hingga terluput mengerjakan sholat? Atau sedang meneguk khamr, narkoba dan rokok? Menurut anda apa yang telah ia kerjakan? Mengapa ia dapatkan khusnul khatimah (insyaAllah) yang aku yakin bahwa saudara pembaca pun mengidam-idamkannya; meninggal dengan mencium bau surga.
Ayahnya berkata, “Ia selalu bangun dan melaksanakan sholat malam sesanggupnya. Ia juga membangunkan keluarga dan seisi rumah agar dapat melaksanakan sholat Shubuh berjamaah. Ia gemar menghafal Al-Quran dan termasuk salah seorang siswa yang berprestasi di SMU.”

(Sumber: Serial Kisah Teladan Karya Muhammad bin Shalih Al-Qahthani, sebagaimana yang dinukil dari Qishash wa ‘Ibar karya Doktor Khalid Al-Jabir)

“Ada tujuh golongan orang yang mendapat naungan Allah pada hari tiada naungan selain dari naunganNya… diantaranya, seorang pemuda yang tumbuh dalam melakukan ketaatan kepada Allah.”

Tuesday, July 22, 2008

Liburan Iffah: Belajar Foto



20 Juli 2008, kegiatan Iffah selama liburan: Belajar Foto.  Hasil fotonya (yang jauh lebih bagus daripada hasil bidikan emaknya :D).


Thursday, June 12, 2008

Menangis itu Sehat

Mengapa anak kecil jarang yang stress? Apakah hubungannya dengan anak kecil sering menangis? Ternyata menangis itu menyehatkan jiwa.
Anak kecil selalu mengekspresikan emosinya. Ia mudah menangis, mudah tertawa, mudah meloncat-loncat kegirangan. Ketika tertawapun kuat ekspresinya. Emosi anak kecil tersalurkan dengan baik, hingga anak kecil jarang menderita stress atau depresi.
Orang dewasa sering memendam emosi. Mereka menganggap menahan emosi itu baik. Ternyata manusia tidak dapat memendam emosi begitu saja. Emosi yang terpendam akan terakumulasi di otak limbik.
Akibat yang terjadi adalah munculnya depresi. Terdapat sebuah penyakit dimana memasuki masa pensiun seseorang dihantui rasa ketakutan yang tidak dapat diketahui asal muasalnya. Ternyata, psikolog mendapatkan trauma tersebut disebabkan emosi ketakutan, rasa bersalah, kesedihan yang terakumulasi berpuluh-puluh tahun. Ia memendamnya dan mengakumulasinya dalam otak limbik (amigdala).
Seharusnya emosi dapat disalurkan dengan baik. Coba perhatikan, sehabis menangis apa yang kita rasakan? Hati menjadi ringan, plong, tidur nyenyak, hati menjadi lebih halus. Sungguh kasihan, orang yang tidak pernah lagi merasakan nikmatnya menangis.
Selamat menangis, menangis itu menyehatkan jiwa. Menangis membuat hati kita halus, peka.

(Credit to anyone who wrote this)

Friday, November 30, 2007

Kita dan Gerakan Penyelamatan Lingkungan

Ketiban sampur terus dapat posting berantai, sekarang gantian deh bikin pass the parcel buat dikerjakan, hehe...

Terkait dengan kondisi lingkungan yang semakin memburuk, yang dampaknya bisa langsung dan tidak langsung kita rasakan, tentu sangat tidak bijaksana jika kita tidak berbuat apa-apa untuk memberikan kontribusi terhadap penyelamatan bumi kita tercinta ini. Nah, parsel kali ini gampang aja kok, tuliskan apa saja hal yang sudah kita lakukan untuk membantu mengurangi efek negatif pola hidup modern yang merusak lingkungan, termasuk mengurangi laju global warming, juga hal-hal yang belum kita lakukan tetapi kita berencana untuk melakukannya. Apa yang kita sampaikan semoga bisa jadi inspirasi buat yang lain. Sebagai referensi, silakan baca disini dan disini.




Here I go
......

1. Menanam Pohon
Alhamdulillah, di rumah saya masih tersedia lahan yang lumayan luas sehingga bisa menanam beberapa jenis tumbuhan termasuk sebatang Pohon Talok (apa ya nama umumnya? Orang Malang biasa menyebutnya Ceri, tapi kita semua tahu yang namanya Ceri yang asli (cherry) mah beda banget ). Kata Pak Agus Gunarto (penerima Kalpataru dari Malang), pohon tersebut banyak menyerap karbondioksida dan menghasilkan oksigen. Well, tapi setelah membaca postingan ini, saya baru tahu bahwa supaya pohon bisa melaksanakan tugasnya menyerap CO2 dan menghasilkan O2 dengan maksimal, air dan nutrisi tanah sangat berperan *sighh...padahal kita tahu betapa buruknya kondisi air dan tanah kita sekarang ini*. Jadi tugas kita memang tidak ringan, jika ingin maksimal dalam usaha menyelamatkan bumi, selamatkan juga air dan tanahnya. Kemarin waktu browsing sebenarnya sempat nemu blog yang menjelaskan cara menyaring air hasil kegiatan rumah tangga, sehingga air yang keluar dari rumah kita sudah berupa air bersih (walaupun masih harus diproses jika akan dijadikan air minum), dengan bahan-bahan yang tidak terlalu sulit, sayangnya blog itu lupa gak disimpan –wong nemunya by accident- jadi ilang deh, ntar mo coba cari lagi, semoga ketemu. Bayangkan jika cara itu diterapkan, tentu semua rumah akan membuang air bersih ke selokan, yang mengalir ke sungai (dan terserap tanah) sehingga sungai-sungai di Indonesia bisa kembali bersih seperti seharusnya. Yah, dengan catatan tak ada yang membuang sampah ke sungai *another problem :(* .

2. Mengurangi Penggunaan Bahan Bakar Fosil
Yah, terus terang ini yang agak susah, soalnya kendaraan saya bahan bakarnya bensin (yang sepeda motor sanex matic 2 tak malah asapnya tebel banget dan boros bensin, apa ya yang harus dilakukan supaya bisa irit dan emisinya berkurang?), walaupun berharap banget suatu saat ada ganti yang hybrid atau tenaga surya atau semacamnya.
Untuk yang satu ini saya salut banget sama seorang ibu berputra 4 yang masih semangat kuliah dan kemana-mana selalu naik sepeda, beliau tetangga saya di rumah lama. Padahal beliau berjilbab rapat mulai atas sampai bawah lengkap dengan kaos kaki (bayangin aja gerahnya). Two thumbs up deh! Trus kenapa ya saya gak bisa? Hehe…ceritanya sih underestimate duluan, soalnya naik motor aja kalo nyampe di rumah selalu tepar, apalagi kalo naik sepeda? Tapi katanya kalo naik sepeda badan lebih segar ya? Hehe....yah semoga saya bisa (kasih semangat dong!). Tapi kalo deket-deket aja sih saya milih jalan kaki kok, kalo ada sepeda juga pakai sepeda aja, kalau jauh baru naik motor.

3. Memisahkan sampah
Saya kurang tahu apakah persoalan sampah ini punya kontribusi terhadap pemanasan global, tapi dampaknya terhadap lingkungan besar sekali, jadi saya masukkan ke list deh.
Kemarin waktu masih di rumah lama, kami sudah mulai membiasakan diri memisahkan sampah organik dengan anorganik, karena ada sedikit lahan untuk membuat lubang kompos dan setelah penuh dilanjutkan dengan composting di dalam tong milik tetangga. Tetapi setelah pindah rumah, kami belum sempat menggali lubang lagi untuk membuat kompos, jadilah sekarang sampah bercampur baur (terus terang saya selalu merasa bersalah setiap kali membuang sampah – kami menyumbang pencemar lingkungan). Yah semoga urusan barang-barang pindahan ini cepet beres jadi segera sempat menggali lubang lagi, doakan ya!!
Oya, sedikit cerita, bayam organik hasil tanaman kami tumbuh sangat subur lho, tanpa pestisida, dan pake pupuk alami. Daunnya besar-besar dan kami sekarang sedang mempertimbangkan untuk berbisnis rempeyek bayam organik (tapi selama ini gagal terus karena selalu habis dimakan sendiri, hehe....). Murah lho, sebungkus cuma 2500 perak. Siapa mau pesan?

4. Hemat Listrik dan Air
Well, kami sudah total memakai lampu hemat energi dan berusaha mematikan yang tidak perlu. Untuk air sepertinya agak susah karena kamar mandi rumah kami masih pakai bak mandi, bukan shower, jadinya masih menghabiskan banyak air. Mesin cuci juga masih pake top loading yang perlu banyak air *sigh*. Gimana ya, buat ganti juga perlu biaya yang nggak sedikit. Tapi jangan kuatir, yang ini masuk dalam daftar “Rencana” kok.

5. 3R – Reduce, Reuse, Recycle
Sekarang saya sedang membiasakan diri untuk membawa tas sendiri kemanapun, sehingga tidak harus menambah jumlah tas plastik setiap kali belanja. Juga menggunakan kembali kertas-kertas bekas (atau menjualnya ke tukang loak/tempat daur ulang), juga membeli barang-barang dengan logo recycle di kemasannya. Hanya saja saya mempunyai ganjalan tentang menggunakan bahan sekali pakai. Memang benar penggunaan bahan sekali pakai (mis: gelas plastik) akan menambah volume limbah kemasan, tetapi menggunakan barang bukan sekali pakai yang mengharuskan pencucian juga menyisakan limbah air sabun, kan? Kalau sudah begini pilih yang mana sebaiknya?
And u know what? Hampir setiap hari saya mengamati isi tempat sampah dan isinya mayoritas adalah kemasan. Gimana ya redusirnya?
Setelah baca ini, saya tambah membatasi diri pake tisu. Walopun emang dasarnya udah gak sering-sering amat pake tisu, paling kalo pergi-pergi aja, sekarang jadi mikir kalo perlu sekali digalakkan penggunaan sapu tangan deh...Kalo yang ini sudah sejak dulu kala nggak pernah ketinggalan (yang pernah sebangku sama saya pasti hapal deh, hehe...). Hidup sapu tangan!!

Well, sepertinya itu hal-hal yang sudah dan belum saya lakukan, termasuk juga masalah-masalah yang saya hadapi. Bagaimana dengan anda? Tulis ya...And pass this parcel to your friends. Yah, minimal 3 orang deh….
Parcel pertama buat:
>> Ida
>> Mbak Ida
>> Az&Fa
>> Siapa aja yang baca tulisan ini, hehe….kejebak deh….
Silakan dilanjutkan…..

Sunday, November 04, 2007

Spiritual for Success Leverage

Ikut yuukkk!!!

Sori, susah upload jadi klik disini ya

Friday, September 01, 2006

Hikmah dibalik Syariat dan Tanda-tanda Kebesaran Allah dalam Diri Kita

  • Garis-garis di telapak tangan

Perhatikan garis-garis di telapak tangan kita. Garis-garis di tangan kiri menunjukkan angka 8 dan 1 (angka arab) dan tangan kanan menunjukkan angka 1 dan 8 sehingga jika angka ditangan kira dijumlahkan dengan tangan kanan akan menghasilkan 81+18=99 yaitu bilangan nama Allah (asmaul husna)

  • Cara makan:

      • Kenapa kita gunakan tangan?

Cara Rasulullah makan adalah dengan memasukkan makanan dengan tangan kanannya kemudian mengunyahnya sebentar, kemudian beliau mengambil sedikit garam menggunakan jarinya, lalu Rasul SAW akan menghisap garam itu, kemudian baru beliau mengunyah keseluruhannya.

Ternyata kedua belah tangan kita mengeluarkan 3 macam enzim, tetapi konsentrasi di tangan kanan lebih banyak daripada yang kiri. Enzim tersebut adalah enzim yang menolong proses pencernaan (digestion).

  • Mengapa menghisap garam?

Garam merupakan sumber mineral dari tanah yang diperlukan oleh tubuh kita. Dua cecah garam dari jari kita sama dengan satu liter air mineral. Selain sumber mineral, garam juga merupakan penawar yang paling mujarab untuk keracunan. Menurut medis, the first line of treatment for poisoning adalah dengan memberi sodium chloride, yaitu garam.

  • Cara Rasul SAW mengunyah

Beliau mengunyah sebanyak 40 kali untuk membiarkan makanan itu betul-betul lumat agar perut kita mudah memproses makanan itu.

  • Membaca Basmalah

Membaca basmalah sebelum makan dapat menghindarkan diri dari penyakit. Karena bakteri dan racun membuat perjanjian dengan Allah SWT, apabila dibacakan basmalah maka mereka akan musnah dari sumber makanan itu.

    • Cara Rasulullah SAW minum

Rasul SAW mengajarkan kita untuk minum dengan duduk dan melarang kita untuk minum dari tempat/wadah yang besar. Beliau juga melarang kita bernafas ketika sedang minum. Karena apabila kita minum dari tempat yang besar, kita tentu akan bernafas dan menghembuskan nafas. Apabila kita menghembuskan nafas, kita akan mengeluarkan CO2 (karbondioksida), yang apabila bercampur dengan air (H2O) akan menjadi H2CO3 (cuka), sehingga menyebabkan minuman itu menjadi acidic (asam). Hal ini berlaku juga jika kita meniup air yang panas. Makanan/minuman panas sebaiknya dikipas saja dan bukan ditiup. Sedangkan cara minum adalah dengan seteguk-bernafas, seteguk-bernafas sampai habis.

    • Mengapa Islam memerintahkan hukum cambuk 100 kali bagi orang belum kawin yang berzina dan merajam sampai mati orang sudah kawin yang berzina?

Tubuh manusia akan mengeluarkan sel-sel darah putih atau antibiotik yang dapat melawan penyakit (sistem imun). Sel-sel ini terdapat di daerah tulang belakang berdekatan dengan sumsum tulang manusia. Lelaki yang yang belum kawin dapat menghasilkan beribu-ribu sel ini, sedangkan lelaki yang sudah kawin hanya dapat menghasilkan 10 unit sel ini per hari. Hal ini disebabkan karena sel lainnya akan hilang karena hubungan suami istri.

Maka apabila lelaki yang belum kawin melakukan zina hendaklah dicambuk 100 kali. Alasannya adalah karena apabila dia dicambuk di bagian punggung, maka rasa sakit dan luka yang dialaminya akan merangsang sumsum tulang untuk menghasilkan beribu sel darah putih yang dapat melawan penyakit berbahaya (misalnya virus HIV) dalam tubuhnya. Tetapi apabila lelaki itu sudah kawin, walaupun dicambuk 100 kali ia akan tetap menghasilkan 10 unit antibodi saya, jadi hukumannya dirajam hingga mati agar dia tidak bisa menularkan penyakitnya (mis: virus HIV) itu.

    • Mengapa ka’bah terletak di Mekah al Mukarromah dan mengapa ia persegi empat (cube)?

Setelah dibuat kajian oleh para cendekiawan dari Pakistan dan Arab, ternyata posisi Ka’bah adalah tepat di tengah-tengah bumi.

Ia berbentuk kubus yang merupakan lambang perpaduan ummah yang bergerak maju bersama, equality and unity, tidak seperti bentuk lain seperti piramid misalnya, yang diumpamakan seperti seorang pemenang yang berada diatas setelah menginjak-injak yang lain.

(Diambil dari buletin eL-Ma’rifah edisi Juli 2006, buletin Ma’had Al Aly UIN Malang)

Tuesday, July 25, 2006

LEPASKAN BEBANMU, BUNDA!

“Oek….oek…”
“Aduh, sepatuku dimana ya?”
“Ma, gorengan gosong!”
“Ma, hari ini aku harus bayar SPP, ….”
“Bu, tagihan koperasi sudah jatuh tempo!”

Akrab dengan peristiwa diatas? Ya… itulah potret kehidupan sehari-hari kita sebagai ibu rumah tangga. Mengurus rumah, merawat anak, melayani suami, mengatur keuangan, merupakan tugas kita sehari-hari.
Menjadi ibu memang bukan pekerjaan mudah. Dituntut kesabaran, kecerdikan, ketangguhan sekaligus kecermatan untuk bisa melakoninya dengan baik. Sayang sekali untuk tugas yang teramat menantang ini tidak tersedia sekolah ataupun pendidikan yang memadai. Jika bukan yang bersangkutan proaktif untuk selalu menambah ilmunya, bisa dipastikan kegiatan sehari-harinya hanya bersifat rutinitas belaka yang cenderung kurang makna.
Seperti dalam hal mendidik anak, ibu memegang peranan vital. Sementara setiap anak dengan potensinya masing-masing memiliki karakter dan tingkah laku yang berbeda-beda. Dari sini seringkali muncul masalah. Ditambah kondisi ekonomi sekarang yang cenderung memberatkan keluarga dan memaksa ibu harus pandai-pandai memutar otak. Disini muncul masalah berikutnya. Kondisi ini bisa diperparah jika suami kurang memahami dan justru menambah rumit dengan permasalahan baru.
Rutinitas seperti ini yang terkadang membuat banyak ibu menjadi tertekan. Bahkan di Amerika, banyak ibu rumah tangga yang berkeinginan untuk mengakhiri hidupnya dengan berbagai alasan, mulai dari tidak tahan menanggung beban keluarga, hingga bosan dengan rutinitas sehari-hari yang hampa kehilangan makna. Bersyukur di Indonesia masyarakatnya lebih agamis sehingga bisa menahan diri dari melakukan tindakan putus asa semacam itu. Tapi itu bukan berarti masalah selesai, karena rasa tertekan atau yang biasa dikenal dengan istilah depresi, bisa berakibat fatal jika tidak ditangani dengan serius.
Depresi itu sendiri adalah suatu bentuk gangguan yang bersangkutan dengan masalah atau fungsi perasaan. Gangguan ini bisa memengaruhi kepribadian seseorang, misalnya rasa marah, sedih, putus asa, dan sebagainya. Sebagian besar perempuan memang lebih rentan terhadap depresi.
Ada tiga faktor penyebab depresi, secara genetik, karena pengaruh hormonal, pengaruh sosial budaya.
Faktor pengaruh sosial budaya terkait erat dengan pandangan bahwa wajar perempuan menumpahkan atau mengikuti perasannya, sementara laki-laki tidak. Sehingga, ketika laki-laki mengalami masalah perasaan, ia tidak terlalu memerdulikannya. Berbeda dengan perempuan, ia akan sangat terlarut dan mengikuti perasaannya. Depresi juga bisa berkaitan dengan siklus datang bulan yang dipengaruhi oleh hormon estrogen. Depresi melanda pula perempuan yang baru melahirkan, biasa disebut fenomena baby blue.
Depresi sendiri awalnya terkait dari stres kecil-kecilan. Setelah seseorang mengalami stres berkepanjangan, lama kelamaan penderita akan mengalami depresi. Sedangkan stresor atau faktor pencetus stres tidak sama pada semua orang. Misalnya pada seorang ibu rumah tangga, karena fokus kehidupannya adalah anak dan suami, maka pencetus stres bisa berasal dari dua pihak yang ia sayangi itu. Ketika ia mendapati masalah dalam hubungan ini, misalnya suami selingkuh atau kekurangan kasih sayang, ia menjadi stres. Berbeda halnya dengan perempuan karier. Faktor pencetus stres mungkin malah berasal dari lingkungan kerja dan pekerjaannya.
Ada banyak cara untuk mengatasi depresi. Salah satu penemuan yang fenomenal adalah ditemukannya terapi menulis sebagai sarana menyalurkan rasa tertekan. Menulis? Ya, menulis. Hasil penelitian yang dilakukan seorang psikolog bernama Dr. James W. Pennebaker dan mahasiswanya telah menunjukkan bahwa menulis tentang hal-hal yang negatif akan memberikan pelepasan emosional yang membangkitkan rasa puas dan lega. Menulis tentang pikiran dan perasaan terdalam tentang trauma yang dialami menghasilkan suasana hati yang lebih baik, pandangan yang lebih positif, dan kesehatan fisik yang lebih baik. Bahkan dalam penelitian juga terbukti bahwa orang-orang yang menuliskan pikiran dan perasaan terdalam mereka tentang pengalaman traumatis menunjukkan peningkatan fungsi kekebalan tubuh!
Seorang penulis wanita terkenal dari Maroko –Fatima Mernissi- juga menulis anjuran di bukunya, “Usahakan menulis setiap hari. Niscaya, kulit anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaatnya yang luar biasa! Dari saat anda bangun, menulis meningkatkan aktivitas sel. Dengan coretan pertama diatas kertas kosong, kantung di bawah mata anda akan segera lenyap dan kulit anda akan terasa segar kembali.”

Lalu, apa yang harus anda tulis agar anda sehat?
Terserah kepada anda untuk menulis apa saja yang anda inginkan. Anda harus membebaskan diri anda. Tidak usah terlalu memikirkan masalah tata bahasa, ejaan, atau struktur kalimat. Barangkali jika anda belum pernah menuliskan atau membicarakan pikiran dan perasaan anda sendiri, pertama-tama anda akan merasa canggung. Jika memang demikian, bersantailah dan praktikkanlah. Berbicaralah atau tuliskanlah terus selama waktu yang anda tentukan sendiri. Tak ada yang menilai anda disini. Jika anda tidak ingin tulisan anda dibaca orang lain, setelah selesai menulis anda bisa merobek atau membakarnya, walaupun disimpanpun tidak ada salahnya. Tetapi jika tulisan anda ditujukan untuk orang lain, suami misalnya, tak perlu ragu untuk memberikan tulisan anda kepadanya, agar iapun berusaha memahami anda. Banyak pasangan yang merasa lebih baik mengungkapkan isi hatinya dengan menulis kepada pasangannya daripada harus beradu mulut dan saling menyakiti.
Menurut Dr. Pennebaker, manfaat menulis diantaranya:
1. Menulis menjernihkan pikiran
2. menulis mengatasi trauma
3. Menulis membantu mendapatkan dan mengingat informasi baru
4. Menulis membantu memecahkan masalah
5. Menulis-bebas membantu kita ketika kita terpaksa harus menulisNah, tunggu apalagi ? Lepaskan bebanmu, Bunda! Menulislah!


(Dimuat dalam buletin Bunda edisi Juni 2006 -buletin inspirasi untuk bunda- ;dibagikan cuma-cuma di Malang)

Sunday, June 18, 2006

Serba Empat


Ketimpuk melulu nih…. Afwan ya Ida, berhubung gak punya barang jadul alias jaman dulu yang masih ngikut terus, jadi peer jadulnya gak bisa dikerjain. Bukan apa-apa sih, mungkin barang yang hilang lebih banyak daripada barang yang ngikut….:D

So sekarang ngerjain tugas serba 4 aja yah, gak papa kan....ya kan....ya dong....

4 kerjaan yang pernah dijalani:

  1. Magang di BRI Madiun waktu masih SMA. Program BKM Jatim yang lumayan manfaat, itung-itung ngisi liburan dan dapat uang saku....25 ribu sebulan...jumlah yang lumayan besar buat anak seumuran SMA waktu itu.
  2. PKL di PT SIER Surabaya (bareng Ida juga nih). Pengalaman yang menyenangkan, uang sakunya juga lumayan.....
  3. Bagian Akuntansi di PT PUSAN Malang. Teman-teman kerja yang menyenangkan, heboh dan unik. Memberi banyak inspirasi dan hikmah tak ternilai. Akhirnya mengundurkan diri karena jabang bayi di kandungan lebih suka minta tidur di rumah...
  4. Finally...jadi ibu rumah tangga....pekerjaan paling menantang dan paling berat yang nggak ada sekolahnya..... Ayo semangat!!!

4 tempat yang pernah ditinggali:

  • Madiun, tempat kelahiran, tempat tumbuh dan berkembang (waduh....). Lovely memories... Kalo inget pasti senyum-senyum sendiri....many konyol things....
  • Yogya, cuman 1 bulan sih, after UMPTN nyari sekolahan sambil refreshing, tapi I like this place, beneran deh... Gak tau gimana kabar rumah kontrakan di GK sekarang, karena stadion Mandala Krida yang deket situ aja hampir ambruk, apalagi rumah kecil yang masuk gang gitu…..hiks...
  • Malang, kota yang kucintai..... Kata orang kalo udah tinggal di Malang pasti nggak pingin keluar, at least selalu pingin balik lagi....(tuh Ida buktinya, xixixi..)
  • Makasar, cuman 1 bulan juga sih. Padahal udah dibela-belain dikontrakin rumah supaya mau tinggal disana (berhubung suami tercinta kerja disana), tapi ternyata Eyangnya nggak mau ditinggal sama cucu-cucunya, ya udah deh ngalah, balik lagi ke Malang.....

4 film favorit:

* Finding Nemo. Film kartun yang menginspirasi banget. Mungkin udah 100 kali nonton, gak bosen-bosen juga. Sampe hampir hafal dialognya. Hebatnya walopun udah ditonton berkali-kali gambarnya tetep bagus....

* Tarzan-nya Walt Disney. Arti sebuah keluarga….bikin nangis-nangis... Soundtrack oleh Phil Collins yang bikin merinding karena dalem banget isinya.... “…..for one so small you seem so strong….”

* Beautiful Mind….dua jempol untuk para guru yang selalu berpikir positif terhadap murid-muridnya….

* Tupi dan Ping-ping….he..he…ini sih gara-gara anak-anak suka liat jadinya ikutan juga…tapi bermanfaat banget bagi anak-anak untuk memahami alam ciptaan Alloh...

4 acara tivi favorit:

Ø The Apprentice, sayang sekarang nggak diterusin lagi....

Ø Kiamat Sudah Dekat, nunggu-nunggu seri kedua...

Ø ER, sekarang juga udah nggak ada...hiks....

Ø Oprah Winfrey show, inspiring....

4 makanan favorit:

v Pastel, bikin berapapun pasti habis deh....

v Kastengels, ini juga...satu toplespun bisa habis sendirian....(aduh maruk amat sehh....)

v Sop buntut, mmm....

v Seafood

4 web yang selalu dibuka

o Yahoo, pastilah....cek email....

o Blog sendiri dong....

o Multiply juga, walopun nggak nambah-nambah juga isinya, xixixi....

o Milis Asahpena

4 lagi yang kena timpuk......tulis ya serba 4-nya....

§ Aan

§ Andik

§ Hakeem

§ Yuli

Harga Waktu Ayah

Andre, seorang anak yang setiap sore selalu menanti kepulangan ayahnya dari kantor untuk sekedar mengajaknya bermain. Suatu sore, sepulang kerja, sang ayah ditanya oleh Andre, ”Ayah, ayah kerja di kantor dibayar berapa sih sebulan?”

Sembari mengernyitkan dahi si ayah menjawab, ”Ya sekitar Rp 2.500.000,-!”

”Kalau sehari berarti berapa ya?” sela Andre

Ayah mulai bingung, ”Seratus ribu rupiah, ada apa sih? Kok tanya gaji segala?”

Akan tetapi, Andre tetap bertanya lagi, ”Kalau setengah hari berarti Rp 50.000,00 dong?”

”Iya, memangnya kenapa?” sahut ayah mulai jengkel.

Si anak dengan mantap mengajukan permohonan, ”Gini, Yah! Tolong tambahin dong tabungan Andre, Rp 5.000 saja. Soalnya, Andre sudah punya tabungan sebesar Rp 45.000,00. Rencananya Andre mau membeli ayah setengah hari saja supaya kita bisa pergi memancing bersama!”

Dari buku ”Setengah Isi Setengah Kosong” – Parlindungan Marpaung

Ciuman Sang Ibu

Bernie Siegel, baru-baru ini melakukan penelitian tentang ‘khasiat’ ciuman seorang istri bagi suaminya maupun seorang ibu bagi anak-anaknya. Sampel diambil dari kalangan peserta (suami) yang naik mobil pribadi untuk ke kantor dan dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah para suami yang berangkat ke kantor dengan terlebih dahulu dicium oleh sang istri, dan kelompok kedua adalah merekayang pergi ke kantor tanpa dicium oleh sang istri. Setelah beberapa waktu ditemukan bukti yang menajubkan. Suami yang pergi ke kantor dengan ciuman sang istri lebih memiliki kemungkinan kecil untuk mengalami kecelakaan ddi perjalanan daripada mereka yang berangkat kerja tanpa merasakan kecupan mesra sang istri. Ternyata kualitasdan antusias bekerja pun mengalami perbedaan yang cukup signifikan.

Kecupan tulus sang istri ketika memberangkatkan suami bekerja ternyata telah meminimalkan kemungkinan hadirnya WIL (wanita idaman lain). Di lain pihak, seorang anak yang diberangkatkan sekolah oleh sang ibu dengan kecupan sayang ternyata memberi dampak yang luar biasa dalam prestasi sekolahnya, bahkan kecupan tersebut mampu meredam kemarahan untuk tidak berkelahi di sekolah daripada mereka yang diberangkatkan oleh baby sitter (pembantu). Percaya atau tidak, hal ini merupakan hasil suatu penelitian yang spektakuler mengenai ciuman seorang ibu.

Dari buku ”Setengah Isi Setengah Kosong” – Parlindungan Marpaung

Saturday, June 03, 2006

Mutiara-mutiara

Tentara yang baik tidaklah menyerang.

Petarung unggul berhasil tanpa kekejaman.

Penakluk terbesar menang tanpa perkelahian.

Pimpinan paling berhasil memimpin tanpa memerintah.

Ini disebut kelemahan yang cerdik.

Ini disebut penguasaan manusia

Ia yang tahu banyak tentang orang lain mungkin terpelajar,

tetapi ia yang mengetahui dirinya sendiri adalah lebih pandai.

Ia yang mengendalikan orang lain mungkin berkuasa,

tetapi ia yang menguasai dirinya sendiri tetap lebih berkuasa

( Lao Tsu)

Keraguan kita adalah pengkhianat,

dan menyebabkan kita kehilangan kebaikan yang mungkin kerap kita peroleh,

dengan membuat kita takut untuk berusaha

(William Shakespeare)

Tuesday, May 30, 2006

Kamu Memang Ratuku

Kami memiliki seorang tetangga wanita, wanita tua renta yang telah berusia 70 tahun lebih. Dia menarik perhatian kami dan kami amat iba melihatnya. Bagaimana tidak, setiap hari kami melihat dia keluar masuk rumah melakukan aktifitas demi kebutuhannya, tanpa seorang pun sanak saudara dan kerabat yang membantunya. Dia memenuhi kebutuhannya sendiri dari mulai makanan sampai pakaian. Dia tinggal sendirian dan tak seorangpun datang bertandang ke rumahnya.

Suatu hari aku mengunjunginya untuk menunaikan satu kewajiban Islam atas kami terhadap para tetangga. Dia kelihatan amat terkejut melihat kedatangan kami. Selama ini ia hidup di tengah-tengah etnis masyarakat yang tiada amal kebaikan di dalamnya dan tidak mengenal belas kasihan. Hubungan antar tetangga tidak terjalin dengan baik dan harmonis. Mereka teramat acuh antara satu dengan lainnya.

Hari berikutnya ia mengadakan kunjungan balik ke kediaman kami. Dia membawa sebungkus manisan untuk anak-anak. Di samping itu, dia juga membawa sebuah kartu yang biasa mereka persembahkan untuk berbgai momen. Pada kartu itu ia menuliskan ucapan terima kasih dan penghargaan dengan apa yang telah kami berikan kepadanya.

Aku menawarkan padanya untuk kerap mengunjungi istriku. Dan memang, sejak saat itu dia mulai mengerti bahwa lelaki di negara kami bertanggung jawab terhadap urusan rumah dan keluarganya. Lelaki bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga. Dia kemudian juga mengerti, bagaimana kedudukan seorang wanita dalam agama Islam, serta penghormatan kaum muslimin terhadap anak, istri ataupun ibu, khususnya wanita yang telah lanjut usia, dimana anak-anak anak-anak dan cucunya akan berlomba-lomba dan saling berkompetisi untuk menghormati dan melayaninya. Dan barangsiapa yang menyia-nyiakan orang tuanya, maka iaakan dikucilkan dari khalayak umum.

Wanita tua ini lantas mempelajari secara langsung bagaimana sebenarnya hubungan antar keluarga dalam agama Islam. Bagaimana seorang ayah bermuamalah dengan anaknya, bagaimana anak-anak itu mengerumuninya sewaktu dia masuk rumah, dan bagaimana seorang istri mati-matian melayani suami dan keluarganya.

Wanita itu lantas membandingkan dengan apa yang telah dijalaninya dengan apa yang kami jalani. Dengan sedih ia menuturkan, bahwa sebenarnya dia memiliki beberapa orang anak dan cucu. Tapi kini dia sendiri taidak mengetahui dimana mereka berada. Dan tidak ada seorangpun dari mereka yang mengunjunginya atau hanya sekedar menengok unutk mengetahui kabarnya. Mereka tidak pernah peduli apakah dirinya masih hidup ataukan telah mati terbakar. Karena pada dasarnua mereka menganggap hal itu tidak penting. Sungguh tragis realita itu, bagaimana mungkin satu ikatan keluarga tercerai-berai tanpa saling mengetahui kondisi masing-masing diantara mereka. Ironis dan tak masuk akal!

Kemudian dia bercerita, bahwa rumah yang ditempati kini merupakan hasil jerih payahnya sendiri sepanjang hidupnya. Dia juga menuturkan bagaimana wanita-wanita barat berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Kemudian dia mengakhiri ucapannya, ”Sesungguhnya wanita di negara kalian adalah ratu. Kalau bukan karena sudah sangat terlambat, pastilah aku akan menikah dengan lelaki seperti suamimu dan hidup seperti kalian.”

Subhanallah... kenyataan ini menggambarkan, betapa mulianya agama Islam itu dan betapa Islam sangat menghargai dan menghormati kaum wanita, sehingga kaum muslimah harus menyadari bahwa emansipasi itu sudah tak perlu diributkan lagi karena Islam itu sudah sempurnya dalam memenuhi hak-hak seorang wanita.

Tetapi ada hal yang lebih tragis, dimana wanita-wanita muslimah lebih menggandrungi koran-koran, majalah-majalah, bahkan menggemari pakaian dan gaya hidup wanita barat. Sedang wanita barat sendiri banyak yang iri dan ingin menjalani kehidupan dan dihormati seperti wanita-wanita muslimah.

Ya Allah, hanya bagi-Mu segala puji dan syukur. Dan kami berdoa agar kami senantiasa berada dalam nikmatnya Islam.

(Ummu Salsabila, dari ”Berbagai Kesaksianku di Inggris” oleh Dr Abdullah Al-Khatir)
Dari majalah Elfata, edisi 5 volume 06 2006, hal.49-51